Berarti, setiap benda bisa jadi energi? Berarti, sampah yang menumpuk itu energi dong?

Kalau ikutin teorinya, begitu. Tapi bikin benda jadi energi gak semudah itu kan? Atau, kalau kita memandang benda sebagai sumber energi yang tersimpan, gak semua benda gampang dilepaskan energinya.

Zaman dulu, minyak bumi cuma dibakar. Sekarang bisa diolah jadi berbagai produk. Minyak bumi di buku pelajaran anak SMA disebut hidrokarbon. Disebut hidrokarbon karena atom penyusunnya banyak terdiri dari Carbon dan Hidrogen.

Carbon dalam bentuk tunggal yang biasa terlihat oleh kita adalah arang, termasuk ujung pensil. Kalau carbon mengalami panas dan tekanan ekstrim akan jadi berlian. Hidrogen dalam bentuk tunggal adalah gas yang budah terbakar.

Kalau karbon dan hidrogen berikatan, bisa jadi berwujud gas, cair, atau padatan. Teegantung seberapa banyak atom carbon dalam untaian rantai karbonnya.

Kalau cuma 1-4 karbon, biasanya wujudnya gas. Kalau 5-17 atom karbon beruntai menjadi cair. Kalau 18 atau lebih, biasanya padat. Ini berlaku dikondisi suhu dan tekanan normal, dan rantai karbonnya sederhana. Kalau rantau karbonnya ditambah zat lain, akan beda lagi.

Contoh hidrokarbon dalam bentuk gas adalah LPG. Dalam bentuk cair adalah brnsin, aftur, minyak tanah, san solar. Dalam bentuk padatan adalah plastik dengan berbagai jenisnya.

Minyak bumi diolah dengan memisah-misahkan panjang rantai hidrokarbon ini. Cara yang palih mudah adalah denfan pemanasan. Saya gak akan bahas detil prosesnya.

Satu yang pasti dengan berbagai teknik pemanasan, kita bisa "merakit" panjang rantai hidrokarbon itu. Bisa menambah, bisa juga memotong. Sederhanya, kita misa mencairkan plastik jadi bensin, lalu jadi gas. Atau sebaliknya.

Mulai menarik?

Plastik bisa jadi bensin atau minyak tanah? Betul. Namanya pirolisis. Saya gak akan bahas prosesnya. Jadi, plastik dijadikan bensin/minyak tanah, lalu digunakan sebagai bahan bakar. Seru kan?

Tapi saya kepikiran satu ide dari teman. Bikin plastik jadi bahan bakar cair perlu energi. Nanti setela jadi, dibakar bakar juga. Boros energi. Bakar aja langsung.

Ok. Berarti daripada saya bikin kompor minyak tanah, saya bikin kompor plastik. Saya coba bikin. Saya bikin tungku bakar dari tong besi bekas cat 25 kg. Saya bikin dalamnya dobel. Bagian luar, samping bawah dilubangi untuk udara masuk. Bagian dalam diberi lubang di sisinya dan bawahnya (bagian dalam tidak menempel ke bawah). Hasilnya, betul, bisa membakar. Tapi apinya merah banget. Jelaga juga banyak banget.

Saya lalu dapet saran buat menambah ketinggian tunggu. Jadilah saya tumpuk satu kaleng lagi. Atas dan bawahnya saya lubangi. Samping bawah juga saya lubangi buat tambahan udara masuk supaya pembakaran makin sempurna. Hasilnya... lumayan. Bisa dipakai buat rebus air mandi.

Satu hal yang perlu diingat, awalnya memang sulit nenyalajan sampah plastik ini. Tapi begitu menyala, api jadi berkobar.

Tidak semua plastik bisa digunakan. Plastik PVC kalau dibakar baunya oarah banget. Mungkin beracun. Jadi saya cuma pakai plastik-plastik bekas bungkus, botol resak, dan thin wall.

Lumayan... ngirit gas...