Tulisan ini gak bermaksud buat membela siapa pun. Cuma saya sering heran aja sama orang-orang di Indonesia. Dari semua Presiden yang pernah menjabat, kayaknya gak pernah bener. Ya memang, tidak ada manusia yang sempurna. Tapi masa iya jadi Presiden Indonesia gak melakukan sesuatu buat negaranya.

Bung Karno mungkin yang agak mendingan. Mungkin karena dia dan Bung Hatta termasuk orang yang nekat. Gara-gara dia Indonesia merdeka. Bayangkan, kalau duo bondo nekat ini gak dengan semena-mena mendeklarasikan kemerdakaa Indonesia. Semena-mena lah... penjajah pasti kesel sama dua orang ini. Gara-gara dua orang ini, satu negara jadi membebaskan diri. Situasi juga membuat Bung Karno dimaklumkan. Ekonomi zaman itu belum ada apa-apanya. Alasannya, karena Indonesia baru merdeka, masih suasana perang. Punya istri lebih dari satu juga tidak dimasalahin.

Pak Harto, kurang berbuat apa buat negara ini? Bandara besar, jalan-jalan yang panjang banget, itu dibangun pada zaman beliau. Indonesia zaman itu bisa bikin pesawat. Sayang kandas. Tapi yang diingat adalah kedekatan dengan kroni-kroninya. Pernah kepikiran gak, kalau Pak Harto waktu itu gak punya kroni-kroni, mungkin Indonesia gak akan semaju sekarang. Ingat, dulu zaman Pak Harto, Bea Cukai pernah sampai dibekukan. Untuk memasukkan barang ke Indonesia, Indonesia sampai menyewa perusahaan swasta asal Swiss. Dan gilanya, pendapatan negara meningkat. Cuma gegara diusik CIA dan IMF, Pak Harto terpaksa mundur dan negara kita mulai masuk masa berantakan. IMF menyelamatkan? Coba dipikir lagi. Berapa banyak negara yang hancur setelah mendapatkan bantuan dari IMF?

Pak Habibi, yang diingat dimasa dia Timor Timur merdeka jadi Timor Leste. Padahal, dia sendiri gak pernah menginginkan itu. Dia pengennya sih damai-damai aja. Tapi kalau sudah di tekan sana sini, mau gimana lagi? Akhirnya, Timor Leste melakukan referendum. Menentukan nasibnya sendiri mau merdeka atau tetap jadi bagian Indonesia. Hasilnya, mereka pilih merdeka. Pikirnya enak jadi negara merdeka. Padahal, bareng Indonesia, Indonesia gak pernah menjajah Timor Timur loh. Sekarang Timor Leste panik karena cadangan minyaknya hampir habis diperah Australia.

Gus Dur, yang diingat selalu saat dia menyindir DPR kayak TK. Padahal bener kan? DPR di masa itu kan cuma ngikut aja, gak punya pendirian. Gak berani membela yang benar. Eh... sekarang masih gitu gak ya? Gus Dur juga diingat karena kegilaannya yang mundur dan keluar dari istana cuma pakai celana pendek. Sebenernya ini menurut saya satir dan bentuk kritik. Dia cuma mau nunjukin, "Saya tetap manusia biasa." Banyak yang gak inget kalau gara-gara Gus Dur, negara kita jadi lebih toleran. Cindo mulai diakui.

Bu Mega, jadi perempuan pertama yang jadi Presiden. Inspiratif. Banyak gebrakan juga. Keuangan negara bisa selamat disituasi yang sangat sulit, meskipun konsekuensinya banyak BUMN dijual ke luar. Tapi yang diingat yang terakhir doang. Perjuangan dia, ya banyak yang lupa.

Pak SBY, yang diingat pasti Hambalang dan skandal BLBI. Padahal, di zaman Pak SBY ini, situasi dunia sangat gak gampang. Di Amerika sendiri ada krisis. Tapi di Indonesia bisa tenang dan adem ayem. Gak banyak gonjang ganjing. Kesannya, Pak SBY kayak gak kerja. Tapi itulah kerja dia, membuat semua tetap baik-baik saja. Kalau lihat latarnya Pak SBY yang dulunya adalah Jenderal perang dan ahli strategi, maka jadi wajar kalau Pak SBY banyak diam di luar. Tapi siapa yang tahu kan, di dalam dia mikir dan ruwetnya kayak apa.

Pak Jokowi, ini yang paling sering dihujat. Terakhir, dia diributin soal ijazah palsu. Padahal semua yang berkepentingan, termasuk yang menerbitkan ijazah, udah bilang itu asli. Hal remeh-temeh buat Presiden. Kalau pun saya yang kena kasus itu, paling saya gak turun pangkat dan golongan. Kalau pun palsu, trus mau apa? Saya bukan melegalkan dokumen palsu ya... tapi ini aneh... diributin gak habis-habis. Sampai orang lupa, apa aja yang udah dilakuin sama Pak Jokowi. Mulai dari transportasi publik di Jakarta yang jadi kece, banyak bandara dan pelabuhan yang dibangun, sampai mulai enaknya jalanan di Papua, semua itu kalah sama kasus ijazah.

Tapi saya paham sih, kenapa banyak yang gak suka sama Pak Jokowi. Ada yang menghasut. Semua kebaikan yang dilakukan kalah sama setitik dosa. Itupun kalau bener dosa ya. Lah, gak pernah bisa terbukti kok. Dan memang banyak pendonor dana yang suntik duit ke LSM-LSM buat terus jelek-jelekin Jokowi. Kenapa? Sederhana aja. Pak Jokowi udah bikin banyak perkara sama negara-negara besar.

Hilirisasi adalah dosa besar Pak Jokowi bagi negara barat. Padahal hilirisasi adalah berkah besar buat negara kita. Gegara hilirisasi, Amerika gak bisa terima tanah dari gunung di Papua. Tanah ini mengandung emas, perak, dan tembaga, tapi diakui cuma sebagai tanah yang gak ada harganya. Ini kenapa tempat asal tanah ini dinamai Tembagapura - istananya tembaga. Padahal itu bohong, kandungan tanahnya kebanyakan adalah emas. Harusnya namanya Emaspura. Gara-gara Jokowi, Amerika kehilangan cuan banyak.

Gara-gara Jokowi juga, negara-negara Eropa kehilangan cuan banyak dari pabrik baja. Ingat, nikel kalau dicampur besi jadi baja. Penggunaan nikel terbanyak bukan buat baterai, tapi buat campuran baja. Eropa sudah membangun banyak smelter nikel. Dari smelter ini, mereka mengolah biji nikel jadi nikel, untuk diolah lagi jadi barang-barang lain. Mereka dapat nilah tambah banyak banget. Jokowi minta, smelternya di Indonesia aja. Jadi nikel dulu, baru boleh ekspor. Meradanglah Eropa. Jerman kirim agennya ke FPI (Front Pembela Islam) buat bikin "rame-rame." Gak percaya? Foto agennya pas ke marka FPI udah bocor. Kedubes Jerman sendiri sampai mumet klarifikasi.

Yang diingat tentang Pak Jokowi, selain ijazah adalah anaknya Gibran yang sekarang jadi Wakil Presiden. Pak Jokowi dianggap mempengaruhi MK untuk mengubah aturan biar Gibran lolos umur buat jadi Wapres. Seandainya pun benar, hak setiap orang untuk mengajukan perubahan aturan kan? Kalau misal saya yang ajukan perubahan itu, kira-kira bakal ribut gak? Toh pada akhirnya yang menikmati perubahan aturan itu juga semua orang, gak cuma dia dan keluarganya sendiri. Karena pembencinya gak kesulitan bermain di aturan, mereka bermain di ranah etika. Katanya mengubah aturan seperti itu gak beretika. Tapi... gak ada satu pun yang berani teriak buat minta dibikinin aturan: sampai derajat ke-lima, tidak boleh ikut jadi pejabat. Berarti emang yang lain cuma koar-koar dibayar (atau biar ikut viral) tapi sebenernya juga pengen jadi dinasti.

Sekarang, Pak Prabowo juga ikut bikin perkara. Dia terusin hilirisasi. Bahkan makin gencar. Sawit dan kelapa bahkan sampai kopi pun mau dihilirisasi. Kalau ini jadi, seru sih... jadi di Indonesia akan banyak pabrik pengolahan, baik pengolahan mineral atau pun makanan. Saya sendiri ada cita-cita pengen bikin pabrik pengolah makanan. Detilnya masih rahasia.

Banyak yang gak suka sama Pak Prabowo? Buanyak banget. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sebenernya bagus pun gak habis dari serangan. Realitanya, banyak anak Indonesia susah makan. Tapi komplain di kota besar: rasanya gak enak. Coy, ini Makan Bergizi Gratis, bukan Makan Enak Gratis! Kalau mau enak, makan di Mc D!

Program gentengisasi, juga dihujat. Padahal kalau dijalanin, bisa hidupin perekonomian. Dari pabrik genteng yang bayar karyawan, sampai tukang-tukangnya, belum lagi toko material. Pasang genteng kan masih butuh kayu, paku, semen, dll. Orang lupa, kalau Pak Prabowo sedang berjuang memutar roda perekonomian.

Tapi... kenapa melibatkan banyak orang kaya dan orang berkuasa? Sederhana aja, karena mereka yang punya kekuatan modal dan bisa menggerakkan. Tapi yang kaya jadi dapet duit dong? Ya emang kenapa? Kan mereka udah keluarin modal, boleh dong dapet cuan. Rakyat kecil dapet apa? Minimal dapet kerjaan.

Ini yang nyinyir, sebenernya paham gak sih, kalau roda harus terus berputar. Roda yang gak berputar, pasti bakal kempes.

Kita lihat ya, apa lagi yang mau disalah-salahin ke Presiden kita?